
Istri Presiden Tunisia, yang terguling, melarikan diri dari negara yang dilanda kekacauan itu dengan membawa 1,5 ton emas batangan senilai lebih dari 55 juta dollar AS. .
Dijuluki "Imelda Marcos dari dunia Arab" karena gaya hidup mewahnya dan kesukaannya pada pakaian karya desainer top, Leila Trabelsi dikatakan sudah meminta emas-emas tersebut minggu lalu saat rezim Presiden Zine Al Abidine Ben Ali ambruk. Kepala bank sentral Tunisia semula menolak permintaan Leila, tetapi Ben Ali (74 tahun) secara pribadi campur tangan. Si kepala bank sentral pun tunduk dan Leila dengan leluasa terbang keluar dari Tunisa bersama emas batangan itu, untuk kemudian bergabung dengan Ben Ali di pengasingan di Arab Saudi.
Klan dari mantan ibu negara itu secara luas menjadi sasaran hinaan karena dilihat sebagai simbol utama korupsi dan ketamakan. Leila (53 tahun), seorang mantan penata rambut, dikenal karena kecintaannya pada mobil. Keluarga itu memiliki lebih dari 50 rumah mewah dan sering berbelanja ke Dubai. Di sana ia dikatakan menghabiskan ratusan ribu dollar.
Saat banyak warga Tunisia menghadapi masalah pengangguran, kondisi hidup yang buruk dan penindasan dari rezim Ben Ali yang brutal, keluarganya, yang dikenal sebagai "The Mafia" di Tunis, ibu kota negara Afrika Utara, dikatakan telah mengumpulkan kekayaan hingga mencapai 55 miliar dollar AS. Banyak dari jumlah itu disimpan di Perancis. Di sana pula beberapa dari anggota keluarga itu masih bersembunyi.
Putri mereka yang berusia 24 tahun dan sedang hamil, Nesrine, dan suaminya yang playboy, Sakhr, berlindung di serangkaian suite di Disneyland Paris, bersama dengan rombongan besar pelayan dan pengawal. Nesrine dijuluki "Marie Antoinette dari Tunisia". Ia punya kebiasaan menerbangkan makanan mewah, termasuk es krim dari St Tropez, ke mansion mewah tepi pantai dengan jet pribadi. Suaminya memelihara harimau sebagai hewan peliharaan, yang makanan utamanya potongan daging sapi. Nesrine dan adiknya Cyrine diperkirakan akan segera diusir dari Paris. Seorang menteri Perancis kemarin mengatakan, Perancis, bekas penguasa kolonial Tunisia, mempertimbangkan untuk membekukan aset-aset yang terkait dengan rezim Ben Ali.
Warga Tunisia mengatakan bahwa, keluarga Nyonya Ben Ali adalah pencuri, penipu, dan pembunuh. Satu-satunya tujuan keluarga ini, adalah mengeruk uang dengan berbagai cara yang mereka bisa.
Krisis Tunisia itu dimulai setelah kematian seorang pedagang sayuran di tepi jalan yang membakar diri, karena marah atas berbagai pembatasan/larangan negara terhadap upaya untuk mencari nafkah. Ia lalu menjadi seorang martir bagi orang banyak dan memicu protes atas kondisi kehidupan yang buruk, setelah warga mengetahui korupsi rezim yang berkuasa melalui publikasi situs WikiLeaks.