Sabtu, 08 Mei 2010

Antara Max dan Minke ada Aku dan Rika



Menulis kembali tentang "Max Havelaar", mengingatkan saya akan seorang teman karib yang kini telah tiada, Rika Vandayana. Rika sangat memfavoritkan buku Max Havelaar, sampai-sampai dia menjuluki dirinya sebagai "Max" atau "Multatuli", sementara saya sangat memfavoritkan buku Trilogi-nya Pramudya Ananta Toer, dan menjuluki diri saya sebagai "Minke" tokoh yang ada dalam buku tersebut. Dan jadilah kami masing-masing memanggil dengan julukan Max dan Minke.
Rika dan saya berteman sejak kelas dua sekolah menengah pertama, saat itu saya adalah murid baru, pindahan dari kota Bandung. Banyak yang menjadi akrab dengan saya, tetapi Rika-lah yang paling karib. Bahkan hingga orang tuanya sangat baik pada saya. Kami selalu pulang sekolah sama-sama, dengan kendaraan umum karena arah yang dituju sama, tetapi rumah saya letaknya lebih jauh, jadi Rika sampai lebih dahulu. Kadang-kadang jika hari libur, Rika meminta saya untuk bermalam di rumahnya, atau menemaninya membeli kado ulang tahun, atau belanja yang lain. Sampai akhirnya tamat sekolah menengah pertama, kami harus berpisah karena masing-masing dari kami memilih Sekolah menengah atas yang berbeda. Tetapi persahabatan tetap berjalan.
Hingga suatu hari, ketika libur lebaran Rika mampir ke rumah dan mengajak saya berlibur dan merayakan hari raya Idul Fitri di rumah neneknya, di Curug, dekat dengan Propinsi Bengkulu. Kedua orang tuanya pun datang meminta izin orang tua saya. Dan saya pun tidak bisa menolak. Lantas kami pun pergi dalam rombongan terpisah dengan kendaraan pribadi. Saat itu saya ingat, lagi pesta sepak bola dunia dan Rika menjagokan Italy sebagai juara dunia, sedangkan saya menjagokan Jerman...! Dan kami pun mulai berdebat tentang jagoan masing-masing.
Hari-hari pun berlalu, persahabatan kami tetap berlangsung sampai akhirnya kami harus berpisah lagi setelah tamat sekolah menengah atas. Dan kami benar-benar terpisah oleh jarak yang cukup jauh, karena Rika akan kuliah di Fakultas Geologi - Universitas Pajajaran - Bandung, Jawa Barat, sementara saya kuliah di Fakultas Teknik Pertambangan - Universitas Sriwijaya, Sumatera Selatan. Jadilah kami saling surat-menyurat, ketika Gunung Galunggung meletus di Jawa Barat, Rika bercerita bagaimna gelapnya kota Bandung akibat debu gunung selama berhari-hari. Jalan, rumah, semua tempat diselimuti debu gunung. Dan saya pun bercanda, apakah dia juga diselimuti debu gunung? Berbulan-bulan surat-menyurat, kemudian semakin lama semakin sedikit surat dan hilang - berhenti. Entah mungkin karena terlalu sibuk, semakin lama tugas kuliah semakin banyak. Dan saya tidak tahu, kalau ternyata Rika masuk anggota tim WANADRI yaitu kelompok mahasiswa pecinta alam, pendaki gunung dari Universitas Pajajaran, dengan kegiatan yang sangat aktif. Saya sendiri juga masuk dalam tim pecinta alam Fakultas Teknik Pertambangan, Universitas Sriwijaya. Tetapi kegiatan saya dalam tim tidak seaktif Rika. Karena saya tidak ingin terlalu sering meninggalkan kuliah.
Pantas saja, Rika jadi jarang menulis surat bahkan akhirnya tidak sama sekali. Sampai akhirnya, kedua orang tuanya bertemu ibu saya di rumah sakit dan mengatakan jika Rika telah meninggal diterjang arus banjir bandang, ketika sedang membuka jalur baru pendakian di Gunung Leuseur - Propinsi Nangroe Aceh Darussalam. Saya pun terkejut bukan alang kepalang. Tidak menyangka sama sekali, teman karib saya telah pergi begitu cepat. Setelah ada kesempatan saya pun mampir ke rumah orang tuanya, mereka terlihat sangat sedih dan terpukul. Selama dua hari mereka mencari Rika dan berharap masih hidup. Ternyata tubuhnya ditemukan telah kaku, di permukaan Sungai Alas sekitar 2 km dari tempat kejadian. Kemudian saya diperlihatkan juga foto-foto ketika Rika mendaki Gunung Jayawijaya dan memetik setangkai edelweiss...Ya, edelweiss, bunga gunung...Selamat Jalan Rika, beristirahatlah dengan tenang...dan saya tetap mengenangmu dengan Max - Max Havelaar...dan saya, Minke..!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar