Sabtu, 08 Mei 2010

MAX HAVELAAR - Multatuli


Max Havelaar adalah buku yang ditulis Multatuli. Buku ini diterbitkan pertama kali pada 15 Mei 1860 oelh penernit De Ryter di Amsterdam, Belanda. Multatuli yang berarti “saya sudah banyak menderita”, merupakan nama pena dari Eduard Douwes Dekker, seorang pegawai di kantor Pemerintah kolonial Belanda di Hindia Belanda.

Douwes Dekker tiba di Batavia (sekarang Jakarta) pada 1839 saat berusia 19 tahun. Pada Januari 1856, ia kemudian pindah ke Rangkas Bitung, sebuah desa kecil di Lebak, Banten. Di desa kecil ini, Douwes Dekker melihat warga hidup dalam kemiskinan, dieksploitasi, dan ditindas. Mereka tidak hanya melayani pemerintah kolonial Belanda yang menerapkan sistem tanam paksa, tetapi juga tuan-tuan pribumi yang secara tradisional menjadi raja mereka. Dari desa kecil inilah kisah Max Havelaar bermula.

Melalui tokoh Max Havelaar, Eduard Douwes Dekker yang asli orang Belanda, bertutur tentang kondisi pribumi yang miskin dan tertindas di bawah pemerintahan kolonial Belanda. Munculnya Max Havelaar menimbulkan gelombang rasa bersalah kolektif pada diri orang Belanda. Mereka menjadi sadar. Karya ini juga menimbulkan perdebatan sengit di parlemen Belanda. Sejarah kemudian mencatat buku ini menjadi salah satu pemicu berakhirnya sistem tanam paksa di Hindia Belanda dan dimulainya politik etis dengan pembangunan sekolah-sekolah bagi penduduk pribumi.

Max Havelaar bukan saja karya sastra yang disajikan dengan satire, lucu serta memuat nilai-nilai humanisme dan etika yang abadi. Pencapaian di sisi estetika dan etika inilah yang membuat Max Havelaar bertahan, bahkan terus menempati posisi puncak dalam daftar karya sastra Belanda hingga kini. Nilai humanisme dan etika dalam Max Havelaar menjadi sumber inspirasi bagi gerakan social lain yang muncul jauh setelah diterbitkannya Max Havelaar.




Pada tahun 1900, Max Havelaar dan Multatuli menjadi bahan bacaan penting bagi gerakan reformasi, vegetarian dan gerakan sosialis yang mulai mencuat. Gerakan perempuan yang muncul pada tahun 1920 jua, menjadikan buku ini sebagai sumber bacaan penting, termasuk R.A Kartini. Gerakan humanis yang muncul pasca-Perang Dunia II di Belanda juga dipengaruhi buku ini

Hingga 150 tahun sejak diterbitkan pertama kali, Max Havelaar tetap menjadi sumber inspirasi. Kini Max Havelaar tidak hanya merujuk pada judul sebuah karya sastra, tetapi juga menjadi nama museum, nama jalan, hingga merek rpoduk kopi dan teh... Dengan semua itu Max Havelaar tetap hidup hingga kini di Belanda dan masih selalu ditengok masyarakat Belanda hingga kini yang membutuhkan panduan dalam menyikapi keberadaan imigran dari Afrika dan Amerika Selatan yang ada di Belanda. Buku ini juga menjadi buku bacaan Kartini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar